Pengikut

Selasa, 10 April 2012

PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN (Hakikat Manusia Dan Faktor-Faktor Pendidikan)




BAB I
PENDAHULUAN
A.          LATAR BELAKANG
Sebagai subjek yang mempunyai potensi-potensi lahir batin, manusia melakukan prakarsa, rasa dan karsa, bahkan juga karya dan prestasi karena dorongan-dorongan yang amat kompleks. Dorongan-dorongan tersebut dapat terjadi karena faktor-faktor objektif (kebutuhan), dapat pula karena faktor-faktor subjektif (cinta, pengabdian). Bahkan dapat juga karena alasa-alasan moral (tanggung jawab), kewajiban, harga diri dan nilai-nilai. Dengan demikian, memahami manusia haruslah dalam persoalan yang berkaitan erat dengan dunia manusia, yakni kebudayaan manusia secara keseluruhan.
Apakah yang dimaksud dengan dunia manusia di atas? Dalam rangka itulah kita perlu mengadakan reorentasi atas demensi-demensi ruang lingkup kesadaran manusia. Hal ini akan menjadi lebih jelas dalam uraian antropologia metafisika tentang hakikat manusia. Ilmu yang mempelajari hakikat manusia disebut antropologia metafisika, yang berkesimpulan bahwa hakikat manusia integritas antara kesadaran-kesadaran:
Manusia sebagai makhluk individu Kesadaran manusia akan diri sendiri merupakan perwujudan individualitas manusia. Kesadaran diri sendiri yang dimulai dengan kesadaran adanya pribadi di antara segala realitas adalah pangkal segala kesadaran terhadap segala sesuatu. Dengan bahasa filsafat dinyatakan self-existensi adalah sumber pengertian manusia akan segala sesuatu. Self-existensi ini mencakup pengertian yang amat luas, terutama meliputi: kesadaran adanya diri di antara semua realita, self-respect, self-narcisme, egoisme, martabat kepribadian, perbedaan dan persamaan dengan pribadi lain, khususnya kesadaran akan potensi-potensi pribadi yang menjadi dasar bagi self-realisasi.
Makin manusia sadar akan diri sendiri sesungguhnya makin sadar akan kesemestaan, karena posisi manusia adalah bagian yang tak tepisahkan dari semesta. Antar hubungan dan antar aksi pribadi itu pula yang melahirkan konsekuensi-konsekuensi seperti hak (asasi) dan kewajiban, norma-norma moral, nilai-nilai sosial, bahkan juga nilai-nilai supranatural berfungsi untuk manusia. Dengan demikian kesadaran manusia sebagai pribadi merupakan kesadaran yang paling dalam, sember kesadaran subjek yang melahirkan kesadaran lain.
Manusia sebagai makhluk sosial, dan Self-existensi, kesadaran diri sendiri membuka kesadaran atas segala sesuatu sebagai realita di samping realita subjek. Meskipun diri kita sebagai pribadi adalah subjek yang menyadari, namun diri kita bukanlah pusat dari segala realita. Sebab, kedudukan setiap pribadi mempunyai martabat kemanusiaan (human dignity) yang sederajat, maka wajarlah bahwa kita menghormati setiap pribadi. Untuk dihormati adalah hak kita dan setiap orang. Sebaliknya untuk menghormati setiap pribadi adalah kewajiban kita dan setiap pribadi lain.
Perwujudan manusia sebagai makhluk sosial (sosial being) terutama nampak dalam kenyataan bahwa tak pernah ada manusia yang mampu hidup tanpa bantuan orang lain. Orang lain dimaksud paling sedikit ialah orang tuanya, keluarga sendiri. Realita ini menunjukkan bahwa manusia hidup dalam interdependensi, antar hubungan dan anteraksi. Di dalam kehidupan manusia selanjutnya, ia selalu hidup sebagai warga satu kesatuan hidup, warga masyarakat, warga negara dan sebaginya. Manusia tidak hanya interdependensi dalam hal materiil-ekonomis saja, melainkan lebih mengandung makna psikologis, yakni dorongan cinta dan dicintai, di mana kebahagiaan terutama terletak dalam kepuasan jiwa ini.
Jadi esensi manusia sebagai makhluk sosial ialah adanya kesadaran manusia tentang status dan posisi dirinya dalam kehidupan bersama dan bagaimana tanggung jawab dan kewajibannya dalam kebersamaan itu. Adanya kesadaran interdependensi dan saling membutuhkan serta dorongan-dorongan untuk mengabdi sesamanya adalah asas sosialitas itu.
Manusia sebagai makhluk susila (moral being) Pribadi manusia yang hidup bersama itu melakukan hubungan dan interaksi baik langung maupun tidak. Di dalam proses interaksi itu tiap pribadi membawa identitas dan kepribadian masing-maising. Oleh karena itu keadaan yang heterogen (beraneka ragam) akan menimbulkan konsekuensi tindakan masing-masing pribadi.
Keadaan interdependensi (saling bergantung satu sama lain), kebutuhan lahir batin yang tiada batasnya akan berlangsung terus menerus secara kontinue. Dan demi ketertiban, kesejahteraan manusia, maka di dalam masyarakat ada nilai-nilai, norma-norma.
Kesadaran susila (sense of morality) tak dapat dipisahkan dengan realitas sosial, sebab, justru adanya nilai-nilai, efektivitas nilai-nilai, berfungsinya nilai-nilai hanyalah di dalam kehidupan sosial. Artinya kesusilaan atau moralitas adalah fungsi sosial. Tiap hubungan sosial mengandung hubungan moral.
Peran Ketiga Hakikat Tersebut Dalam Pendidikan Manusia adalah subjek sekaligus juga sebagai objek pendidikan. Manusia dewasa yang berkebudayaan adalah subjek pendidikan dalam arti yang bertanggung jawab menyelenggarakan pendidikan. Mereka berkewajiban secara moral atas perkembangan pribadi anak-anak mereka, generasi penerus mereka. Manusia dewasa yang berkebudayaan, trutama yang berprofesi keguruan (pendidikan) bertanggung jawab formal untuk melaksanakan misi pendidikan sesuai dengan tujuan dan nilai-nilai yang dikehendaki masyarakat bangsa itu.
Perwujudan kepribadian seseorang nampak dalam keseluruhan pribadi manusia dalam interaksinya dengan lingkungan hidupnya. Proses pendidikan yang berlangsung secara pluralitas (subjek dengan lingkungan alamiah, sosial dan kultural) amat ditentukan oleh aspek manusianya. Sebab kedudukan manusia sebagai subjek di dalam masyarakat, bahkan dalam alam semesta, memberikan konsekuensi tanggung jawab yang besar bagi manusia. Manusia mengemban amanat untuk membina masyarakat, memelihara alam lingkungan hidup bersama. Bahkan terutama bertanggung jawab atas martabat kemanusiaannya (human dignity).
Jadi manusia sebagai makhluk individu berperan aktif bahkan wajib dalam menyelenggarakan pendidikan baik secara formal atau non formal. Sebagai makhluk sosial dia sudah semestinya memiliki rasa kebersamaan dan kerjasama dalam hal memajukan pendidikan untuk generasi mereka, baik dalam lingkup kependidikan ataupun dalam lingkup masyarakat. Dari interaksi dan peran tanggung jawab itu pula manusia sudah semestinya menimbulkan moralitas agar kebersamaan itu langgeng dalam melestarikan jati dirinya sebagai makhluk yang beradab.


BAB II
PEMBAHASAAN
A.          HAKEKAT MANUSIA
Jelaskan bahwa manusia sebagai mahluk social memiliki fungsi biologis, proteksi, sosialisasi/pendidikan. Supportive dan ekspresive. Dari fungsi-fungsi ini diharapkan bukan saja menjadi landasan, materi kegiatan dan bahkan pendekatan/ proses-proses dalam merancang, mengoperasikan, mengevaluasi program pendidikan non formal.
Hakekat manusia adalah sebagai berikut :
1.      Makhluk yang memiliki tenaga dalam yang dapat menggerakkan hidupnya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya.
2.      Individu yang memiliki sifat rasional yang bertanggung jawab atas tingkah laku intelektual dan sosial.
3.      yang mampu mengarahkan dirinya ke tujuan yang positif mampu mengatur dan mengontrol dirinya dan mampu menentukan nasibnya.
4.      Makhluk yang dalam proses menjadi berkembang dan terus berkembang tidak pernah selesai (tuntas) selama hidupnya.
5.      Individu yang dalam hidupnya selalu melibatkan dirinya dalam usaha untuk mewujudkan dirinya sendiri, membantu orang lain dan membuat dunia lebih baik untuk ditempati
6.      Suatu keberadaan yang berpotensi yang perwujudanya merupakan ketakterdugaan dengan potensi yang tak terbatas
7.      Makhluk Tuhan yang berarti ia adalah makhluk yang mengandung kemungkinan baik dan jahat.
8.      Individu yang sangat dipengaruhi oleh lingkungan turutama lingkungan sosial, bahkan ia tidak bisa berkembang sesuai dengan martabat kemanusaannya tanpa hidup di dalam lingkungan sosial.
Perkembangan merupakan suatu proses sosialisasi dalam bentuk irnitasi yang berlangsung dengan adaptasi (penyesuaian) dan seleksi. Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan manusia adalah keturunan, lingkungan, dan manusia itu sendiri.
Fase-fase perkembangan menurut beberapa ahli psikologi :
a.
Menurut Aristoteles

1).
0,0-7,0 : masa anak kecil

2).
7,0-14,0 : masa anak

3).
14,0-21,0 : masa remaja


b.
Menurut Mantessori

1).
0,0-7,0 : periode penemuan dan pengaturan dunia luar.

2).
7,0-12,0 : periode rencana abstrak

3).
12,0-18,0 : periode penemuan diri dan kepekaan sosial

4).
18,0- : periode pendidikan tinggi


c.
Menurut Comenius

1).
0,0-6,0 : scola matema

2).
6,0-12,0 : scolavernatulata

3).
12,0-18,0 : scola latina

4).
18,0-24,0 : academia


d.
Menurut J.J Rousseau

1)
0,0-2,0 : masa asuhan

2).
2,0-12,0 : masa pendidikan jasmani dan latihan panca indera

3).
12,0-15,0 : masa pendidikan akal.

4).
15,0-20,0 : masa pembentukan watak dan pendidikan agama


e.
Menurut Oswald Kroch

1).
masa anak-anak

2).
masa bersekolah

3).
masa kematanga.


f.
Menurut Elizabeth B. Hurlock

1).
periode pre natal

2).
masa oral

3).
masa bayi

4).
masa anak-anak

5).
masa pubertas
Hukum tempo perkembangan menyatakan bahwa tiap-tiap anak memiliki tempo perkembangan yang berbeda. Anak juga memiliki masa peka, yaitu suatu masa di mana suatu organ atau unsur psikologis anak mengalami perkembangan yang sebaik-baiknya.
Bagi seorang pendidik, mengetahui perkembangan anak diperlukan dalam membimbing anak sesuai dengan perkembangannya.
B.           PERUBAHAN TINGKAH LAKU AKIBAT BELAJAR
Pengertian belajar dapat disimpulkam sebagai berikut :
·         Dengan belajar itu belajar itu diharapkan tingkah laku seseorang akan berubah.
·         Dengan belajar pengetahuan dan kecakapan seseorang akan bertarnbah.
·         Perubahan tingkah laku dan penambahan pengetahuan ini di dapat lewat suatu usaha.
Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan seseorang dalam belajar adalah :
Anak yang belajar meliputi faktor fisiologis dan psikologis.
Faktor dari luar :
1)      Endogen :
Ø  Fisiologis (kesehatan fisik dan indra) psikologis :
ü   adanya rasa ingin tahu.dari siswa.
ü   kreatif, inovatif de akseleratif
ü   bermotivasi tinggi.
ü   adanya sifat kompetitif yang sehat
ü   kebutuhan akan rasa aman, penghargaan, aktualisasi diri, kasih sayang dan rasa memiliki.
2)      Eksogen :
Instrumental (kurikulum, program, laboratorium) lingkungan (sosial dan non sosial) Pusat berlangsungnya pendidikan adalah :
Ø   Keluarga.
Ø   Sekolah.
Ø   Masyarakat.
Ciri-ciri keberhasilan pendidikan pada seseorang dapat terlihat pada :
ü   Mengerti benar akan tugasnya dengan baik dan didorong oleh rasa tanggung jawab yang kuat terhadap dirinya serta terhadap Tuhan.
ü   Mampu mengadakan hubungan sosial dengan bekerja sama dengan orang lain.
ü   Mampu menghadapi segala perubahan dunia karena salah satu ciri kehidupan ialah perubahan.
ü   Sadar akan dirinya dan harga dirinya sehingga tidak mudah memperjualbelikan dirinya dan kreatif.
ü   Peka terhadap nilai-nilai yang sifatnya rohaniah.
Pribadi manusia tidak dapat dirumuskan sebagai suatu keseluruhan tanpa sekaligus meletakkan hubungannya dengan lingkungan. Jadi kepribadian adalah suatu kesatuan psikofisik termasuk bakat, kecakapan, emosi, keyakinan, kebiasaan, menyatakan dirinya dengan khas di dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
Sedangkan peranan pendidik/tutor dalam pengembangan kepribadian adalah menjadi jembatan penghubung atau media untuk mengaktualisasikan potensi psikofisik individu dalam menyelesaikan diri dengan lingkungannya.
Sifat hakekat manusia menjadi kajian antropologi, yang hasilnya sangat diperlukan dalam upaya menumbuh kembangkan potensi, manusia melalui penyelenggaraan pendidikan.


1.            Sifat Hakekat Manusia
Sifat hakekat manusia merupakan ciri-ciri yang karakteristik, yang secara principal membedakan manusia dengan hewan, walaupun antara manusia dengan hewan banyak kemiripan terutama secara biologis (lihat orang hutan). Karenanya banyak filsuf menamakan manusia identik dengan heawan seperti : Socrates, menyebut manusia Zoon Politico (hewan yang bermasyarakat); Max Schaller ; menyebutkan : Das Krantetier (Hewan Ynag Selalu Bermasalah); demikian pula Charles Darwin dengan teori evolusinya telah membuktikan bahwa manusia berasal dari kera (Primat) tetapi dia gagal yang disebutnya dengan The Missing Link.
2.            Wujud sifat Manusia
a)      Kemampuan Menyadari diri Dengan kemampuan menyadari diri :
·         manusia dapat membedakan dirinya dengan manusia lain (ia, mereka) dan dnegan lingkungan non manusia (fisik).
·         Manusia dapat membuat jarak dengan manusia lain dan lingkungannya. Manusia memiliki arah pandangan kedalam dan keluar.
·         Pandangan arah kedalam, akan memberi status lingkungan sebagai subyek berhadapan dengan aku sebagai obyek. (Penting untuk pengembangan sosial)
·         Pandangan arah keluar, memandang lingkungan sebagai obyek, aku sebagai obyek yang memanipulasikan lingkungan untuk aku, berpuncak pada egoisme. (Penting untuk pengembangan individualitet).
·         Dalam pendidikan kedua arah tersebut harus dikembangkan secra seimbang.
3.            Kemampuan Bereksistensi
Kemampuan bereksistensi dimaksudkan manusia tidak hanya “ber-ada” (seperti hewan dan tumbuhan) tetapi juga “meng-ada” , dimana manusia tidak hanya bagian lingkungan seperti hewan dan tumbuhan tetapi manusia menjadi manajer lingkungan (mengolah, mengendalikan).
Kemampuan bereksistensi harus dikembangakan sejak dini, kreatifitas, keberanian, dan lain-lain.
4.            Kata Hati (Consuence of Man)
·         Kata hati juga disebut dengan istilah : hati nuranu, lubuk hati, suara hati, pelita hati dan lain sebagainya. Yang berarti kemampuan pada diri manusia untuk mengetahui baik buruknya perbuatan manusia termasuk pula kemampuan pengambilan keputusan atas dasar pertimbangan benar/salah, analisis yang didukung kecerdasan akal budi. Mereka yang memiliki kemampuan seperti tersebut diatas disebut tajam kata hatinya.
·         Pendidikan untuk mengubah kata hati tumpul. Menjadi tajam ditempuh dengan melatih kecerdasan dan kepekaan emosi.
5.            Kecerdasan Moral
·         Moral (etika), sinkron dengan kata hati yang tajam, yang benar-benar baik yang disebut juga dengan moral yang tinggi (luhur).
·         Moral bertalian erat dengan keputusan kata hati, dan nilai-nilai kemanusiaan.
6.            Tanggung Jawab
·         Kesediaan untuk menanggung segenap akibat dari perbuatan yang berwujud tanggung jawab, kepada diri sendiri, masyarakat dan Tuhan.
·         Keberanian untuk menentukan bahwa sesuatu perbuatan dilakukan sesuai dengan tuntutan kodrat manusia, sehingga sanksi adapun yang di tuntutkan di terima dengan kerelaan dan kesadaran.
7.            Rasa Kebebasan
·         Rasa bebas, bukan dimaksud perbuatan bebas membabi buta, bebas dalam arti, berbuat sepanjang tidak bertentangan dengan tuntutan kodrat manusia merdeka tidak sama dengan berbuat tanpa ikatan, kemerdekaan yang sesungguhnya justru berlangsung dalam keterikatan karenanya, kemerdekaan erat kaitannya dengan kata hati dan moral orang merasa merdeka apabila perbuatannya sesuai dengan kata hatinya.
·         Implikasinya dalam pendidikan, mengusahakan agar anak menginternalisasikan nilai-nilai aturan kedalam dirinya dan dirasakan sebagai miliknya.
8.            Kewajiban dan Hak
·         Kewajiban dan hak, merupakan indicator bahwa manusia sebagai mahluk sosial.
·         Dalam kehidupan hak dimaknai sebagai sesuatu yang menyenangkan, sedangkan kewajiban dimaknai sebagai beban. Tapi menurut (Drijar Kara, 1978) kewajiban bukan beban, tetapi keniscayaan sebagai manusia, mengenal berarti mengingkari kemanusiaan, sebaliknya melaksanakan kewajiban berarti kebaikan.
·         Pemenuhan akan hak dan pelaksanaan kewajiban berkaitan erat dengan keadilan, dapat dikatakan kedilan terwujud bila hak sejalan dengan kewajiban.
·         Kemampuan menghayati kewajiban sebagai keniscayaan tidak lahir dengan sendirinya, tetapi melalui suatu proses pendidikan (disiplin).
9.            Kemampuan Menghayati Kebahagiaan
·         Kebahagiaan istilah yang sulit dijabatkan dengan kata-kata, tetapi tidak sulit dirasakan setiap orang pasti pernah mengalami rasa bahagia (senang, gembira dan lain sebagainya).
·         Kebahagiaan milik manusia : kebahagiaan dapat dicapai apabila manusia dapat meningkatkan kualitas hubungannya sebagai mahluk dengan dirinya sendiri (memahami kelebihan dan kekurangannya); dengan alam (untuk eksploitasi dan dilestarikan); dan terhadap Tuhan Maha Pencipta.
·         Pendidikan mempunyai peranan yang penting sebagai wahana untuk mengantar anak mencapai kebahagiaan.
Dimensi-Dimensi Kepribadian
Manusia memiliki karakteristik yang membedakannya dengan hewan, manusia juga memiiki dimensi yang bersifat unik, potensial, dan dinamis.
Ada 4 (empat) macam dimensi manusia :
1.      Dimensi Keindividualan
·         Banyak ahli berpendapat tentang individu :
Ø  Lysen mengertikan individu sebagai “orang seorang”, sesuatu yang merupakan kebutuhan yang tidak dapat dibagi-bagi (in divide).
Ø  Langeveld M.J (1995), mengertikan tidak ada individu yang identik dimuka bumi walaupun berasal dari satu sel. Setiap orang memiliki individualitas.
·         Kecendrungan perbedaan ini sudah berkembang sejak usia dini. Selanjutnya berkembang bahwa setiap anak memiliki pilihan, sikap kemampuan, bakat minat yang berbeda.
·         Keberadaan tersebut bersifat potensial perlu ditumbuh kembangkan melalui pendidikan juka tidak ia akan laten dalam pembentukan kepribadian yang bersifat unik dalam menentukan dirinya sendiri.
2.      Dimensi Kesosialan
·         Manusia disamping sebagai mahluk individual, dia juga mahluk sosial. Socrates mengatakan manusia adalah “Zoon Politicon” (Mahluk/hewan yang bermasyarakat).
·         Dimensi kesosialan pada manusia tampak jelas pada dorongan untuk bergaul manusia tidak dapat hidup seorang diri (terisolir). Manusia hanya akan menjadi manusia jika berada di antara manusia. Individualitas manusia terbentuk melalui proses interaksi (pendidikan).
3.      Dimensi Kesusilaan
·         Manusia adalah mahluk susila. Dritarkara mengatakan manusia susila, yaitu manusia yang memiliki nilai-nilai, menghayati, dan mewujudkan dalam perbuatan.
·         Nilai-nilai adalah sesuatu yang dijunjung tinggi oleh manusia, mengandung makna kebaikan, keluhuran kemuliaan dan dijadikan pedoman hidup.
·         Pendidikan kesusilaan berarti menanamkan kesediaan memikil kewajiban disamping hak.
4.      Dimensi Keberagaman
·         Manusia adalah mahluk religius. Sejak zaman dahulu nenek moyang manusiameyakini akan adanya kekuatan supranatural yang menguasai hidup alam semesta ini. Untuk mendekatkan diri dan berkomunikasi dengan kekuatan tersebut ditempuh dengan ritual agama.
·         Beragama merupakan kebutuhan manusia, karena manusia adalah mahluk yang lemah memerlukan tempay bertopang demi keselamatan hidupnya. Agama sebagai sandaran vertikal manusia.
·         Penanaman sikap dan kebiasaan beragama dimulai sedini mungkin, yang melaksanakan dikeluarga dan dilanjutkan melalui pemberian pendidikan agama di sekolah.
Pengembangan Dimensi-dimensi Manusia
Ø  Pendidikan adalah upaya sadar untuk mengaktualisasikan potensi dimensi-dimensi secara total dan maksimal.
Ø  Meskipun pendidikan pada dasarnya baik (normatif) tapi dalam pelaksanaan bisa saja kemungkinan kesalahan, melenceng dari tujuan utama. Untuk itu digunakan pendekatan pengembangan yang bersifat :
1.      Pengembangan yang utuh
Ø  Tingkat keutuhan perkembangan dimensi manusia ditentukan oleh 2 faktor :
§  Kualitas potensi tingkat manusia.
§  Kualitas layanan pendidikan yang diberikan untuk pengembangannya.
Ø  Wujud kebutuhan pengembangan dapat ditinjau dari :
Keutuhan antara aspek jasmani rohani, keutuhan antara dimensia individu dan sosial, kesusilaan dan keberagamaan, antara aspek kognitif afektif psikomotor.
Ø  Arah pengembangannya
§  Arah konsentris
Pengembangan keempat dimensi hakekat manusia tidak dipisahkan.
§  Arah horizontal
Pengembangan hakekat dimensi manusia dilaksanakan secara serempak.
2.      Pengembangan yang tidak utuh
Ø  Pengembangan yang tidak utuh terjadi apabila dalam proses pengembangan ada unsur D.H.M. yang terabaikan. Misal dimensi kesosialan didominasi keindividualan, atau dimensi domain afektif didominasi pengembangan domain kognitif, demikian juga halnya jika domain afektif terabaikan.
Ø  Pengembangan D.H.M yang tidak utuh bisa berakibat kepribadian yang tidak mantap.

C.          Faktor-faktor Pendidikan
Pendidikan berasal dari kata “didik”, mendapat awalan kata “me” sehingga menjadi “mendidik” artinya memelihara dan memberi latihan. Dalam memelihara dan memberi latihan diperlukan adanya ajaran, tuntutan dan pimpinan mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran. Pendidikan berasal dari kata “Pedagogi” yaitu kata “paid” artinya “anak” sedangkan “agogos” yang artinya membimbing “sehingga ” pedagogi” dapat di artikan sebagai “ilmu dan seni mengajar anak”.
Jadi Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Pendidikan adalah aktivitas atau usaha manusia untuk menumbuh kembangkan potensi-potensi bawaan baik jasmani maupun rohani untuk memperoleh hasil dan prestasi.
Dengan kata lain bahwa pendidikan dapat diartikan sebagai suatu hasil peradaban bangsa yang dikembangkan atas dasar pandangan hidup bangsa itu sendiri (nilai dan norma masyarakat) yang berfungsi sebagai filsafat pendidikannya atau sebagai cita-cita dan pernyataan tujuan pendidikannya, karena bagaimanapun peradaban suatu masyarakat, didalamnya berlangsung dan terjadi suatu proses pendidikan sebagai usaha manusia untuk melestarikan hidupnya. Pendidikan bagi kehidupan manusia merupakan kebutuhan mutlak yang harus dipenuhi sepanjang hayat. Tanpa pendidikan sama sekali mustahil suatu kelompok manusia dapat hidup berkembang sejalan dengan inspirasinya (cita-cita) untuk maju, sejahtera dan bahagia menurut konsep pandangan hidup mereka.
Dalam al-Qur’an kata pendidikan dikenal dengan istilah tarbiyah. Kata ini berasal dari kata rabba, yurabbi yang berarti memelihara, mengatur, mendidik. Kata tarbiyah berbeda dengan ta’lîm yang secara harfiyah juga memiliki kesamaan makna yaitu mengajar. Akan tetapi, kata ta’lîm lebih kepada arti transfer of knowladge (pemindahan ilmu dari satu pihak kepada pihak lain). Sedangkan tarbiyah tidak hanya memindahkan ilmu dari satu pihak kepada pihak lain, namun juga penanaman nilai-nilai luhur atau akhlâk al-karîmah, serta pembentukan karakter. Oleh karena itulah, Allah swt menyebut dirinya dengan sebutan rabb yang berarti pemelihara dan pendidik.
Dalam aktivitas ada enam faktor pendidikan yang dapat membentuk pola interaksi atau saling mempengaruhi. Adapun ke enam faktor pendidikan tersebut, meliputi:
a)      Tujuan Pendidikan
Adalah usaha pencapaian oleh peserta didik tentang hasil praktek pendidikan baik di lingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat secara luas. Dalam praktek pendidikan, baik di lingkungan keluarga, di sekolah maupun di masyarakat luas, banyak sekali tujuan pendidikan yang diinginkan oleh pendidik agar dapat dicapai (dimiliki) oleh peserta didiknya.
b)     Pendidik
Dalam hal ini kita dapat membedakan pendidikitu menjadi 2 kategori, yaitu:
1.      Pendidik menurut kodrati, yaitu orang tua dan
2.      Pendidik menurut jabatan yaitu guru.
Pendidik yang bersifat kodrati sebagai orang tua, wajib pertama sekali memberikan didikan kepada anaknya. Selain asuhan, kasih sayang, perhatian dan sebagainya. Orang tua adalah pendidik pertama dan utama. Sedangkan pendidik menurut jabatan adalah guru, sebagai pendidik yang menerima tanggung jawab dari; orang tua, masyarakat dan negara.
Guru sebagai pengontrol, pembimbing dan pendidik bagi peserta didik. Pendidikan yang diberikan seorang guru bukan hanya menyangkut materi atau pengetahuan saja. Tapi juga tingkah laku, akhlak serta kepribadian. Karena sekolah merupakan rumah kedua bagi peserta didik dan sebagian besar dari waktu dihabiskan di sekolah bersama teman-teman serta guru.

c)      Peserta Didik
Adalah orang yang menerima pengaruh dari seseorang atau sekelompok orang yang menjalankan kegiatan pendidikan. Peserta didik sebagai manusia yang belum dewasa merasa tergantung kepada pendidikannya, peserta didik merasa bahwa ia memiliki kekurangan-kekurangan tertentu, ia menyadari bahwa kemampuannya masih sangat terbatas dibandingkan dengan kemampuan pendidik.
Dalam pendidikan tradisional, peserta didik dipandang sebagai organisme pasif yang hanya menerima informasi dari orang dewasa. Kini dengan makin cepatnya teknologi perkembangan zaman, peserta didik dalam usia dan tingkat kelas yang sama bisa memiliki profil dan pengetahuan materi yang berbeda. Tentu hal ini tergantung pada konteks yang mendorong perkembangan peserta didik tersebut. Seperti lingkungan keseharian, lingkungan belajar, tempat belajar, dan lingkungan pendidikan optimal.
Perilaku siswa sangat erat kaitannya dengan keteladanan yang dimiliki guru. Karena seorang guru yang teladan akan mudah menggugah, mempengaruhi siswa untuk lebih giat belajar dan berusaha menciptakan perilaku yang baik dalam pribadinya. Sebagaimana yang telah dicontohkan guru sesuai dengan tuntunan profesional, guru harus memiliki kualitas kepribadian yang sedemikian rupa sebagai pribadi panutan.

d)     Isi atau Materi Pendidikan
Isi atau materi pendidikan ialah segala sesuatu yang disampaikan pendidik kepada peserta didik dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran.

e)      Metode Pendidikan
Agar interaksi dapat berlangsung dengan baik dan mencapai tujuan, maka disamping dibutuhkan pemilihan materi pendidikan yang tepat, perlu dipilih pula metode yang tepat.

f)       Lingkungan
Lingkungan adalah segala sesuatu yang dapat mempengaruhi tingkah laku, dan perkembangan peserta didik. Lingkungan yang baik dan sehat akan menciptakan suasana yang harmonis dan kondusif yang berdampak pada prestasi belajar peserta didik tersebut.


BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
           
            Proses pendidikan di desain sedemikian rupa untuk memudahkan peserta didik memahami pelajaran. Maka dari itu peran guru harus lebih dimantapkan dalam rangka meningkatkan pendidikan, khususnya pada pembentukan pribadi peserta didik berakhlakul karimah.
Dari uraian di atas dapat diketahui, bahwa tujuan utama dari pendidikan adalah menjadikan manusia sebagai insan rabbani (manusia yang berketuhanan). Pendidikan tidak hanya menjadikan manusia pintar dan menguasai ilmu pengetahuan saja, tetapi juga menciptakan insan yang bertanggungjawab dan berakhlak mulia.












DAFTAR PUSTAKA

HAKIKAT MANUSIA – http://WordPress.com, di akses pada tanggal, 26 september 2011
Ahmad Adi Farin. Hakikat manusia-http://sejathi,com, di akses pada tanggal, 26 september 2011
Iyan Fitrianur. pengertian-faktor-faktor-pendidikan- http://google.com, diakses pada tanggal 26 september 2011



Tidak ada komentar:

Posting Komentar