Powered By Blogger

Pengikut

Sabtu, 24 Maret 2012

AL QUR'AN DAN BUMI


Lapisan-Lapisan Atmosfer


Bumi memiliki seluruh sifat yang diperlukan bagi kehidupan. Salah satunya adalah keberadaan atmosfir, yang berfungsi sebagai lapisan pelindung yang melindungi makhluk hidup. Adalah fakta yang kini telah diterima bahwa atmosfir terdiri dari lapisan-lapisan berbeda yang tersusun secara berlapis, satu di atas yang lain. Persis sebagaimana dipaparkan dalam Al Qur’an, atmosfir terdiri dari tujuh lapisan. Ini pastilah salah satu keajaiban Al Qur’an.
Satu fakta tentang alam semesta sebagaimana dinyatakan dalam Al Qur’an adalah bahwa langit terdiri atas tujuh lapis.
"Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak menuju langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu." (Al Qur'an, 2:29)
"Kemudian Dia menuju langit, dan langit itu masih merupakan asap. Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya." (Al Qur'an, 41:11-12)
Kata "langit", yang kerap kali muncul di banyak ayat dalam Al Qur’an, digunakan untuk mengacu pada "langit" bumi dan juga keseluruhan alam semesta. Dengan makna kata seperti ini, terlihat bahwa langit bumi atau atmosfer terdiri dari tujuh lapisan.
Saat ini benar-benar diketahui bahwa atmosfir bumi terdiri atas lapisan-lapisan yang berbeda yang saling bertumpukan. Lebih dari itu, persis sebagaimana dinyatakan dalam Al Qur’an, atmosfer terdiri atas tujuh lapisan. Dalam sumber ilmiah, hal tersebut diuraikan sebagai berikut:
Para ilmuwan menemukan bahwa atmosfer terdiri diri beberapa lapisan. Lapisan-lapisan tersebut berbeda dalam ciri-ciri fisik, seperti tekanan dan jenis gasnya. Lapisan atmosfer yang terdekat dengan bumi disebut TROPOSFER. Ia membentuk sekitar 90% dari keseluruhan massa atmosfer. Lapisan di atas troposfer disebut STRATOSFER. LAPISAN OZON adalah bagian dari stratosfer di mana terjadi penyerapan sinar ultraviolet. Lapisan di atas stratosfer disebut MESOSFER. . TERMOSFER berada di atas mesosfer. Gas-gas terionisasi membentuk suatu lapisan dalam termosfer yang disebut IONOSFER. Bagian terluar atmosfer bumi membentang dari sekitar 480 km hingga 960 km. Bagian ini dinamakan EKSOSFER. .
(Carolyn Sheets, Robert Gardner, Samuel F. Howe; General Science, Allyn and Bacon Inc. Newton, Massachusetts, 1985, s. 319-322)
Jika kita hitung jumlah lapisan yang dinyatakan dalam sumber ilmiah tersebut, kita ketahui bahwa atmosfer tepat terdiri atas tujuh lapis, seperti dinyatakan dalam ayat tersebut.
1. Troposfer
2. Stratosfer
3. Ozonosfer
4. Mesosfer
5. Termosfer
6. Ionosfer
7. Eksosfer
Keajaiban penting lain dalam hal ini disebutkan dalam surat Fushshilat ayat ke-12, "… Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya." Dengan kata lain, Allah dalam ayat ini menyatakan bahwa Dia memberikan kepada setiap langit tugas atau fungsinya masing-masing. Sebagaimana dapat dipahami, tiap-tiap lapisan atmosfir ini memiliki fungsi penting yang bermanfaat bagi kehidupan umat manusia dan seluruh makhluk hidup lain di Bumi. Setiap lapisan memiliki fungsi khusus, dari pembentukan hujan hingga perlindungan terhadap radiasi sinar-sinar berbahaya; dari pemantulan gelombang radio hingga perlindungan terhadap dampak meteor yang berbahaya.
Salah satu fungsi ini, misalnya, dinyatakan dalam sebuah sumber ilmiah sebagaimana berikut:
Atmosfir bumi memiliki 7 lapisan. Lapisan terendah dinamakan troposfir. Hujan, salju, dan angin hanya terjadi pada troposfir.
(http://muttley.ucdavis.edu/Book/Atmosphere/beginner/layers-01.html)
Adalah sebuah keajaiban besar bahwa fakta-fakta ini, yang tak mungkin ditemukan tanpa teknologi canggih abad ke-20, secara jelas dinyatakan oleh Al Qur’an 1.400 tahun yang lalu.
Fungsi Gunung


Dengan perpanjangannya yang menghujam jauh ke dalam maupun ke atas permukaan bumi, gunung-gunung menggenggam lempengan-lempengan kerak bumi yang berbeda, layaknya pasak. Kerak bumi terdiri atas lempengan-lempengan yang senantiasa dalam keadaan bergerak. Fungsi pasak dari gunung ini mencegah guncangan dengan cara memancangkan kerak bumi yang memiliki struktur sangat mudah bergerak.
Al Qur’an mengarahkan perhatian kita pada fungsi geologis penting dari gunung.
"Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka..." (Al Qur'an, 21:31)
Sebagaimana terlihat, dinyatakan dalam ayat tersebut bahwa gunung-gunung berfungsi mencegah goncangan di permukaan bumi.
Kenyataan ini tidaklah diketahui oleh siapapun di masa ketika Al Qur’an diturunkan. Nyatanya, hal ini baru saja terungkap sebagai hasil penemuan geologi modern.
Menurut penemuan ini, gunung-gunung muncul sebagai hasil pergerakan dan tumbukan dari lempengan-lempengan raksasa yang membentuk kerak bumi. Ketika dua lempengan bertumbukan, lempengan yang lebih kuat menyelip di bawah lempengan yang satunya, sementara yang di atas melipat dan membentuk dataran tinggi dan gunung. Lapisan bawah bergerak di bawah permukaan dan membentuk perpanjangan yang dalam ke bawah. Ini berarti gunung mempunyai bagian yang menghujam jauh ke bawah yang tak kalah besarnya dengan yang tampak di permukaan bumi.
Dalam tulisan ilmiah, struktur gunung digambarkan sebagai berikut:
Pada bagian benua yang lebih tebal, seperti pada jajaran pegunungan, kerak bumi akan terbenam lebih dalam ke dalam lapisan magma. (General Science, Carolyn Sheets, Robert Gardner, Samuel F. Howe; Allyn and Bacon Inc. Newton, Massachusetts, 1985, s. 305)
Dalam sebuah ayat, peran gunung seperti ini diungkapkan melalui sebuah perumpamaan sebagai "pasak":
"Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan?, dan gunung-gunung sebagai pasak?" (Al Qur'an, 78:6-7)
Dengan kata lain, gunung-gunung menggenggam lempengan-lempengan kerak bumi dengan memanjang ke atas dan ke bawah permukaan bumi pada titik-titik pertemuan lempengan-lempengan ini. Dengan cara ini, mereka memancangkan kerak bumi dan mencegahnya dari terombang-ambing di atas lapisan magma atau di antara lempengan-lempengannya. Singkatnya, kita dapat menyamakan gunung dengan paku yang menjadikan lembaran-lembaran kayu tetap menyatu.
Fungsi pemancangan dari gunung dijelaskan dalam tulisan ilmiah dengan istilah "isostasi". Isostasi bermakna sebagai berikut:
Isostasi: kesetimbangan dalam kerak bumi yang terjaga oleh aliran materi bebatuan di bawah permukaan akibat tekanan gravitasi. (Webster's New Twentieth Century Dictionary, 2. edition "Isostasy", New York, s. 975)
Peran penting gunung yang ditemukan oleh ilmu geologi modern dan penelitian gempa, telah dinyatakan dalam Al Qur’an berabad-abad lampau sebagai suatu bukti Hikmah Maha Agung dalam ciptaan Allah.
"Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka..." (Al Qur'an, 21:31)
Angin yang Mengawinkan


Gambar di atas memperlihatkan tahap-tahap pembentukan gelombang air. Gelombang air terbentuk ketika angin meniup permukaan air. Akibat pengaruh angin ini, pertikel-partikel air mulai bergerak melingkar. Pergerakan ini kemudian mendorong terbentuknya gelombang air yang silih berganti, dan butiran-butiran air kemudian terbentuk oleh gelombang ini yang kemudian tersebar dan beterbangan di udara.
Dalam sebuah ayat Al Qur’an disebutkan sifat angin yang mengawinkan dan terbentuknya hujan karenanya.
"Dan Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan dan Kami turunkan hujan dari langit lalu Kami beri minum kamu dengan air itu dan sekali kali bukanlah kamu yang menyimpannya." (Al Qur'an, 15:22)
Dalam ayat ini ditekankan bahwa fase pertama dalam pembentukan hujan adalah angin. Hingga awal abad ke 20, satu-satunya hubungan antara angin dan hujan yang diketahui hanyalah bahwa angin yang menggerakkan awan. Namun penemuan ilmu meteorologi modern telah menunjukkan peran "mengawinkan" dari angin dalam pembentukan hujan.
Fungsi mengawinkan dari angin ini terjadi sebagaimana berikut:
Di atas permukaan laut dan samudera, gelembung udara yang tak terhitung jumlahnya terbentuk akibat pembentukan buih. Pada saat gelembung-gelembung ini pecah, ribuan partikel kecil dengan diameter seperseratus milimeter, terlempar ke udara. Partikel-partikel ini, yang dikenal sebagai aerosol, bercampur dengan debu daratan yang terbawa oleh angin dan selanjutnya terbawa ke lapisan atas atmosfer. . Partikel-partikel ini dibawa naik lebih tinggi ke atas oleh angin dan bertemu dengan uap air di sana. Uap air mengembun di sekitar partikel-partikel ini dan berubah menjadi butiran-butiran air. Butiran-butiran air ini mula-mula berkumpul dan membentuk awan dan kemudian jatuh ke Bumi dalam bentuk hujan.
Sebagaimana terlihat, angin “mengawinkan” uap air yang melayang di udara dengan partikel-partikel yang di bawanya dari laut dan akhirnya membantu pembentukan awan hujan.
Apabila angin tidak memiliki sifat ini, butiran-butiran air di atmosfer bagian atas tidak akan pernah terbentuk dan hujanpun tidak akan pernah terjadi.
Hal terpenting di sini adalah bahwa peran utama dari angin dalam pembentukan hujan telah dinyatakan berabad-abad yang lalu dalam sebuah ayat Al Qur’an, pada saat orang hanya mengetahui sedikit saja tentang fenomena alam…
Lautan yang Tidak Bercampur Satu Sama Lain
Terdapat gelombang besar, arus kuat, dan gelombang pasang di Laut Tengah dan Samudra Atlantik. Air Laut Tengah memasuki Samudra Atlantik melalui selat Jibraltar. Namun suhu, kadar garam, dan kerapatan air laut di kedua tempat ini tidak berubah karena adanya penghalang yang memisahkan keduanya.
Salah satu di antara sekian sifat lautan yang baru-baru ini ditemukan adalah berkaitan dengan ayat Al Qur’an sebagai berikut:
"Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, antara keduanya ada batas yang tak dapat dilampaui oleh masing-masing." (Al Qur'an, 55:19-20)
Sifat lautan yang saling bertemu, akan tetapi tidak bercampur satu sama lain ini telah ditemukan oleh para ahli kelautan baru-baru ini. Dikarenakan gaya fisika yang dinamakan "tegangan permukaan", air dari laut-laut yang saling bersebelahan tidak menyatu. Akibat adanya perbedaan masa jenis, tegangan permukaan mencegah lautan dari bercampur satu sama lain, seolah terdapat dinding tipis yang memisahkan mereka. (Davis, Richard A., Jr. 1972, Principles of Oceanography, Don Mills, Ontario, Addison-Wesley Publishing, s. 92-93.)
Sisi menarik dari hal ini adalah bahwa pada masa ketika manusia tidak memiliki pengetahuan apapun mengenai fisika, tegangan permukaan, ataupun ilmu kelautan, hal ini dinyatakan dalam Al Qur’an.
Kegelapan dan Gelombang di Dasar Laut

Pengukuran yang dilakukan dengan teknologi masa kini berhasil mengungkapkan bahwa antara 3 hingga 30% sinar matahari dipantulkan oleh permukaan laut. Jadi, hampir semua tujuh warna yang menyusun spektrum sinar matahari diserap satu demi satu ketika menembus permukaan lautan hingga kedalaman 200 meter, kecuali sinar biru (lihat gambar di samping). Di bawah kedalaman 1000 meter, tidak dijumpai sinar apa pun. (lihat gambar atas). Fakta ilmiah ini telah disebutkan dalam ayat ke-40 surat An Nuur sekitar 1400 tahun yang lalu..
"Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan; gelap gulita yang tindih-bertindih, apabila dia mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat melihatnya, (dan) barangsiapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikitpun." (Al Qur'an, 24:40)
Keadaan umum tentang lautan yang dalam dijelaskan dalam buku berjudul Oceans:
Kegelapan dalam lautan dan samudra yang dalam dijumpai pada kedalaman 200 meter atau lebih. Pada kedalaman ini, hampir tidak dijumpai cahaya. Di bawah kedalaman 1000 meter, tidak terdapat cahaya sama sekali. (Elder, Danny; and John Pernetta, 1991, Oceans, London, Mitchell Beazley Publishers, s. 27)
Kini, kita telah mengetahui tentang keadaan umum lautan tersebut, ciri-ciri makhluk hidup yang ada di dalamnya, kadar garamnya, serta jumlah air, luas permukaan dan kedalamannya. Kapal selam dan perangkat khusus yang dikembangkan menggunakan teknologi modern, memungkinkan para ilmuwan untuk mendapatkan informasi ini.
Manusia tak mampu menyelam pada kedalaman di bawah 40 meter tanpa bantuan peralatan khusus. Mereka tak mampu bertahan hidup di bagian samudra yang dalam nan gelap, seperti pada kedalaman 200 meter. Karena alasan inilah, para ilmuwan hanya baru-baru ini saja mampu menemukan informasi sangat rinci tersebut tentang kelautan. Namun, pernyataan "gelap gulita di lautan yang dalam" digunakan dalam surat An Nuur 1400 tahun lalu. Ini sudah pasti salah satu keajaiban Al Qur’an, sebab infomasi ini dinyatakan di saat belum ada perangkat yang memungkinkan manusia untuk menyelam di kedalaman samudra.
Selain itu, pernyataan di ayat ke-40 surat An Nuur "Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan…" mengarahkan perhatian kita pada satu keajaiban Al Qur’an yang lain.
Para ilmuwan baru-baru ini menemukan keberadaan gelombang di dasar lautan, yang "terjadi pada pertemuan antara lapisan-lapisan air laut yang memiliki kerapatan atau massa jenis yang berbeda." Gelombang yang dinamakan gelombang internal ini meliputi wilayah perairan di kedalaman lautan dan samudra dikarenakan pada kedalaman ini air laut memiliki massa jenis lebih tinggi dibanding lapisan air di atasnya. Gelombang internal memiliki sifat seperti gelombang permukaan. Gelombang ini dapat pecah, persis sebagaimana gelombang permukaan. Gelombang internal tidak dapat dilihat oleh mata manusia, tapi keberadaannya dapat dikenali dengan mempelajari suhu atau perubahan kadar garam di tempat-tempat tertentu. (Gross, M. Grant; 1993, Oceanography, a View of Earth, 6. edition, Englewood Cliffs, Prentice-Hall Inc., s. 205)
Pernyataan-pernyataan dalam Al Qur'an benar-benar bersesuaian dengan penjelasan di atas. Tanpa adanya penelitian, seseorang hanya mampu melihat gelombang di permukaan laut. Mustahil seseorang mampu mengamati keberadaan gelombang internal di dasar laut. Akan tetapi, dalam surat An Nuur, Allah mengarahkan perhatian kita pada jenis gelombang yang terdapat di kedalaman samudra. Sungguh, fakta yang baru saja diketemukan para ilmuwan ini memperlihatkan sekali lagi bahwa Al Qur'an adalah kalam Allah.
Kadar Hujan
Fakta lain yang diberikan dalam Al Qur’an mengenai hujan adalah bahwa hujan diturunkan ke bumi dalam kadar tertentu. Hal ini disebutkan dalam Surat Az Zukhruf sebagai berikut;
"Dan Yang menurunkan air dari langit menurut kadar (yang diperlukan) lalu Kami hidupkan dengan air itu negeri yang mati, seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari dalam kubur)." (Al Qur'an, 43:11)
Kadar dalam hujan ini pun sekali lagi telah ditemukan melalui penelitian modern. Diperkirakan dalam satu detik, sekitar 16 juta ton air menguap dari bumi. Angka ini menghasilkan 513 trilyun ton air per tahun. Angka ini ternyata sama dengan jumlah hujan yang jatuh ke bumi dalam satu tahun. Hal ini berarti air senantiasa berputar dalam suatu siklus yang seimbang menurut "ukuran atau kadar" tertentu. Kehidupan di bumi bergantung pada siklus air ini. Bahkan sekalipun manusia menggunakan semua teknologi yang ada di dunia ini, mereka tidak akan mampu membuat siklus seperti ini.
Per tahunnya, air hujan yang menguap dan turun kembali ke Bumi dalam bentuk hujan berjumlah "tetap": yakni 513 triliun ton. Jumlah yang tetap ini dinyatakan dalam Al Qur'an dengan menggunakan istilah "menurunkan air dari langit menurut kadar". Tetapnya jumlah ini sangatlah penting bagi keberlangsungan keseimbangan ekologi dan, tentu saja, kelangsungan kehidupan ini,..

Bahkan satu penyimpangan kecil saja dari jumlah ini akan segera mengakibatkan ketidakseimbangan ekologi yang mampu mengakhiri kehidupan di bumi. Namun, hal ini tidak pernah terjadi dan hujan senantiasa turun setiap tahun dalam jumlah yang benar-benar sama seperti dinyatakan dalam Al Qur’an.
Pergerakan Gunung
Dalam sebuah ayat, kita diberitahu bahwa gunung-gunung tidaklah diam sebagaimana yang tampak, akan tetapi mereka terus-menerus bergerak.
"Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal dia berjalan sebagai jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (Al Qur'an, 27:88)
Gerakan gunung-gunung ini disebabkan oleh gerakan kerak bumi tempat mereka berada. Kerak bumi ini seperti mengapung di atas lapisan magma yang lebih rapat. Pada awal abad ke-20, untuk pertama kalinya dalam sejarah, seorang ilmuwan Jerman bernama Alfred Wegener mengemukakan bahwa benua-benua pada permukaan bumi menyatu pada masa-masa awal bumi, namun kemudian bergeser ke arah yang berbeda-beda sehingga terpisah ketika mereka bergerak saling menjauhi.
Para ahli geologi memahami kebenaran pernyataan Wegener baru pada tahun 1980, yakni 50 tahun setelah kematiannya. Sebagaimana pernah dikemukakan oleh Wegener dalam sebuah tulisan yang terbit tahun 1915, sekitar 500 juta tahun lalu seluruh tanah daratan yang ada di permukaan bumi awalnya adalah satu kesatuan yang dinamakan Pangaea. Daratan ini terletak di kutub selatan.
Sekitar 180 juta tahun lalu, Pangaea terbelah menjadi dua bagian yang masing-masingnya bergerak ke arah yang berbeda. Salah satu daratan atau benua raksasa ini adalah Gondwana, yang meliputi Afrika, Australia, Antartika dan India. Benua raksasa kedua adalah Laurasia, yang terdiri dari Eropa, Amerika Utara dan Asia, kecuali India. Selama 150 tahun setelah pemisahan ini, Gondwana dan Laurasia terbagi menjadi daratan-daratan yang lebih kecil.
Benua-benua yang terbentuk menyusul terbelahnya Pangaea telah bergerak pada permukaan Bumi secara terus-menerus sejauh beberapa sentimeter per tahun. Peristiwa ini juga menyebabkan perubahan perbandingan luas antara wilayah daratan dan lautan di Bumi.
Pergerakan kerak Bumi ini diketemukan setelah penelitian geologi yang dilakukan di awal abad ke-20. Para ilmuwan menjelaskan peristiwa ini sebagaimana berikut:
Kerak dan bagian terluar dari magma, dengan ketebalan sekitar 100 km, terbagi atas lapisan-lapisan yang disebut lempengan. Terdapat enam lempengan utama, dan beberapa lempengan kecil. Menurut teori yang disebut lempeng tektonik, lempengan-lempengan ini bergerak pada permukaan bumi, membawa benua dan dasar lautan bersamanya. Pergerakan benua telah diukur dan berkecepatan 1 hingga 5 cm per tahun. Lempengan-lempengan tersebut terus-menerus bergerak, dan menghasilkan perubahan pada geografi bumi secara perlahan. Setiap tahun, misalnya, Samudera Atlantic menjadi sedikit lebih lebar. (Carolyn Sheets, Robert Gardner, Samuel F. Howe; General Science, Allyn and Bacon Inc. Newton, Massachusetts, 1985, s. 30)
Ada hal sangat penting yang perlu dikemukakan di sini: dalam ayat tersebut Allah telah menyebut tentang gerakan gunung sebagaimana mengapungnya perjalanan awan. (Kini, Ilmuwan modern juga menggunakan istilah "continental drift" atau "gerakan mengapung dari benua" untuk gerakan ini. (National Geographic Society, Powers of Nature, Washington D.C., 1978, s.12-13)
Tidak dipertanyakan lagi, adalah salah satu kejaiban Al Qur’an bahwa fakta ilmiah ini, yang baru-baru saja ditemukan oleh para ilmuwan, telah dinyatakan dalam Al Qur’an.

Selasa, 13 Maret 2012

berbuat baik terhadap lingkungan


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

            Berbuat baik pada hakekatnya merupakan kebutuhan manusia yang akan berdampak pada terwujudnya lingkungan yang baik pula. Kalau ada orang yang lebih memilih untuk selalu berbuat jahat dan kerusakan pada dasarnya juga akan merugikan dirinya sendiri. Keberadaan lingkungan alam akan selalu memberikan dampak merugikan kepada orang yang selalu berbuat jahat. Bencana alam, banjir, tanah longsor dan sebagainya pada dasarnya juga merupakan akibat perilaku manusia yang berbuat jahat terhadap lingkungannya. Berbuat baik tentu tidak hanya harus dilakukan oleh seseorang sendirian.
            Berbuat baik juga harus dilakukan dengan mengajak orang lain untuk bersama-sama melakukannya. Allah SWT memerintahkan kepada kita semua agar saling tolong menolong dalam berbuat kebaikan dan ketakwaan. “Dan tolong menolonglah kamu sekalian dalam mengerjakan kebaikan dan takwa.” (Al-Qur’an, Surat Al-Maidah: 2). Manusia dalam jiwa dan hatinya yang terdalam sebenarnya selalu tergerak untuk berbuat baik. Setidaknya untuk berbuat baik terhadap dirinya sendiri. Secara individual, berbuat baik terhadap diri sendiri kadangkala memang dapat berbenturan dengan kepentingan orang lain karena adanya pandangan yang subyektif terhadap makna berbuat baik itu sendiri. Dalam aspek yang lebih luas, salah satu perbuatan baik adalah selalu memberikan pertolongan kepada orang lain yang membutuhkan pertolongan.
            Orang yang selalu berbuat baik dan selalu memberikan pertolongan kepada orang lain dijanjikan akan selalu mendapatkan pertolongan dari Allah SWT. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, bahwa: “Allah SWT senantiasa memberikan pertolongan kepada hamba-Nya selama hamba tersebut memberikan pertolongan kepada saudaranya.” Orang yang mengajak berbuat baik dijanjikan akan mendapatkan pahala seperti pahala orang lain yang mengerjakan perbuatan baik tersebut. Rasulullah SAW bersabda: “Siapa saja yang mengajak kepada kebaikan atau petunjuk maka ia akan mandapatkan pahala seperti pahala orang lain yang mengikutinya, yang demikian itu tidak akan mengurangi pahala mereka sedikitpun.
B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang tersebut diatas maka pewrmasalahan yang diangkat dalam penelitian ini dirumuskan dalam bentuk pertanyaan sebagai berikut:
1.      Bagaimana upaya untuk berbuat baik terhadap lingkungan dan alam sekitar
2.      Langkah langkah apakah yang di lakukan untuk berbuat baik terhadap lingkungan dan alam sekitar













BAB II
PEMBAHASAN

A.    Berbuat Baik Kepada Sesama Manusia
Kita dapat melihat bahwa tolong-menolong perlu dilakukan tidak hanya terbatas di antara sesama orang Islam saja, melainkan juga dengan sesama manusia pada umumnya.
Sebagai manusia, kita banyak memiliki kelemahan di samping keistimewaan . Sebagai contoh ketika sakit, kita memerlukan pertolongan dokter yang membantu mengobatinya. Demikian pula ketika kita hendak menuju ke suatu tempat yang jauh kita memerlukan peralatan transportasi, demikian seterusnya.
1.      Saling Tolong Menolong
Tolong-menolong tersebut terbatas kepada hal-hal yang bersifat positif saja, tidak pada yang negatif. Misalnya kita tidak boleh menolong si penjahat untuk memudahkan ia melakukan kejahatannya. Demikian pula kita tidak boleh menolong orang lain menunjukkan tempat yang di dalamnya terdapat kemaksiatan. Karena menolong yang demikian sama artinya dengan kita menjerumuskan orang lain, bahkan menjerumuskan diri  sendiri.
Tolong-menolong akan lebih diperlukan lagi dalam hidup bertetangga, baik tetangga di tempat kita tinggal, di kantor, di tempat bermain, dan sebagainya. Dalam hidup bertetangga misalnya kita memerlukan pertolongan orang lain ketika di rumah kita terdapat musibah kebakaran, kematian dan sebagainya. Alangkah sedihnya manakala kita mendapat musibah sementâra tetangga kita malah menertawakannya atau malah sengaja menambah beban. Ini semua memerlukan pertolongan orang lain. Pertolongan itu baru akan tercipta manakala kita juga mau menolong orang lain. Karena itu kita tidak hanya mengharapkan pertolongan orang lain saja, melainkan kita juga harus mau menolongnya. Untuk itu, maka perlu saling menolong. Dengan cara seperti itu, maka berbagai kesulitan yang dialami oleh sesama manusia akan dapat diatasi.
dapat kita lihat ayat Al Quran berikut :
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi inereka (yang diolok-olok,) lebih baik dan mereka (yang mengolok-olokkan) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olokkan) wanita yang lain (karena) boleh Jadi wanita (yang diolok-olokkan,) lebih baik dan wanita (yang mengolok-olokkan,) dan Janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil-memanggil dengan julukan-Julukan yang buruk’. (Q.S. 49: 11).
Pada terjemahan ayat di atas terdapat larangan saling mengolok-olokkan, karena hal itu dapat merenggangkan hubungan di antara sesama manusia, dan akhirnya juga mempersulit dirinya masing-masing. Orang yang mengolok-olok tidak selamanya dalam kejayaan, demikian pula orang yang diolok-olok pun tidak pula selamanya hidup susah. Suatu saat bisa saja keadaannya berbalik. Jika ini terjadi, maka yang mengolok-olok tadi akan merasa malu dan kesulitan meminta bantuan kepada orang yang pernah diolok-olok.
Mengolok-olok itu biasa dilakukan dengan kata-kata, karena kata-kata memang amat mudah diucapkan, dan seringkali menjadi sumber pertengkaran dan permusuhan. Larangan tersebut dimaksudkan agar manusia justru mengembangkan sikap saling mengormati. Dalam hal ini terdapat aturan-aturan yang harus dilakukan, yaitu seorang siswa hormat kepada tetangganya, seorang penduduk suatu tanah air, hormat pada tanah ainya, dan sebagai suatu bangsa
hormat pada bangsanya, dan sebagai penganut agama, hormat pada agamanya, demikian seterusnya.
Hormat kepada guru, karena dialah yang mengajar seseorang membaca, menulis, memberikan ilmu pengetahuan, mendidik jiwa, melatib otak, menunjuki kepada kebaikan dan kebahagiaan.
Adapun hormat kepada kedua orang tua, karena keduanya memelihara jasad seseorang, merawat badan, memberi makan, membiayai pendidikan, memberikan tempat tinggal, dan kebutuhan hidup lainnya. Sedangkan hormat kepada sahabat atau teman, karena teman tempat seseorang mengadukan masalahnya, dimintai pendapatnya, meminta pengakuannya, dan menolongnya di kala dalam kesusahan. Demikian pula hormat kepada tetangga karena tetanggalah orang yang terdekat dengan kita di mana kita berada. Tetanggalah yang pertama kali memberikan pertolongan terhadap kesulitan yang kita jumpai. Seseorang juga harus hormat kepada tanah airnya, karena tanah airnya itulah yang memberikan kepadanya tempat untuk tumbuh dan berkembang. Demikian pula hormat kepada bangsa, karena bangsa itulah yang telah ikut memberikan  pengorbanan bagi keselamatannya. Seseorang hormat kepada agamanya karena agama itulah yang telah menunjukkan kcpadanya tentang cara hidup yang baik dan bermoral guna mencapai tujuan hidupnya bahagia dunia dan akhirat. Inilah makna atau arti hidup yang hakiki, yaitu hidup dalam suasana saling menghormati dengan sesamanya dan dengan berbagai unsur lainnya yang telah ikut serta memberikan bantuan terhadap pencapaian kebutuhan hidupnya dalam arti yang seluas-luasnya. Tanpa mengembangkan sikap saling menghormati, maka yang terjadi adalah ketegangan-ketegangan dan konflik yang dapat membahayakan dirinya masing-masing.
2.      Saling Menasehati
Saling menasihati sebenarnya termasuk bagian dan saling menolong. Menasehati Namun saling menasihati sifatnya lebih khusus kepada saling tolong-menolong kepada hal-hal yang lebih bersifat pemikiran dan gagasan-gagasan guna memecahkan berbagai kesulitan yang dihadapi. firman Allah berikut:
Artinya: “Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal salih dan nasihat-menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran “
Terjemahan ayat di atas dapat kita melihat bahwa seseorang siapa pun dia, akan merugi, kecuali apabila ia mempercayai adanya Tuhan (beriman), beramal salih, dan saling menasihati.
Padangan Islam mengenai arti hidup, sangat berlainan dengan pandangan orang-orang yang berpandangan kebendaan semata-mata (materialistis). Menurut ajaran Islam yang bersumber pada Al Quran dan Hadis, bahwa pandangan Islam mengenai arti bidup itu datang untuk menenteramkan pikiran manusia, dan menuntun hidup secara hakiki, hidup jasmani dan hidup rohani. Sekaligus memberi jawaban, bahwa hidup secara jasmani tidak lebih sebagai sarana, sedangkan hidup secara rohani adalah sebagai arah yang dituju. Dengan demikian tujuan hidup manusia menurut Islam adalah mengarahkan diri untuk mencapai kebahagiaan dunia akhirat, jasmani dan rohani, yang dalam pelaksanaannya, materi sebagai alat, sedangkan rohani sebagai pengarah.
Bila tujuan hidup manusia hanya semata-mata materi, atau dunia, maka membimbing anak tidak terlalu penting ditujukan kepada pendidikan moral. Karena bila harta dunia telah kita capai, apakah gunanya kepentingan moral dan etika ? Moral dan etika hanyalah sekedar basa-basi saja. Yang penting adalah kecerdasan dan intelektual serta kesenangan duniawi dan kemasyuran. Setelah tujuan tersebut kita capai, orang lain pasti menaruh hormat dan menundukkan kepala kepada kita.
Tetapi bila tujuan hidup kita baik dunia maupun akhirat demi keridhaan Allah, maka membimbing anak merupakan suatu hal yang teramat penting, dan tentu saja pendidikan anak kita tujukan terhadap titik tumpu dan tujuan yang diridhoi Allah, yakni agar menjadi manusia yang taqwa dan selamat sejahtera dunia akhirat.
Dengan demikian, maka bimbingan mestinya sinkron, antara dua tujuan, yaitu dunia dan akhirat, karena sabda Rasulullah SAW.
Artinya: “Bukan orang yang balk yang meninggalkan dunianya, karena meneari akhirat dan bukan orang yang baik yang meninggalkan akhirat karena dunianya. Artinya  Orang yang baik ialah yang mengumpulkan (menggabungkan) dunia dan akhirat. Sebaik baik alat penghubung yang dapat menyampaikan kamu ke akhirat ialah dunia. Dan janganlah kamu merepotkan orang lain. (Diriwayatkan oleh Ibnu Asakir).
Dengan demikian, kalau seseorang mempunyai anak dengan tujuan sekedar pelampiasan nafsu biologis saja, maka apakah bedanya dengan bangsa binatang? Orang yang baik selalu memperhitungkan laku perbuatannya di dalarn membimbing anaknya. Apakah Ia telah mengikuti garis lurus ataukah menyimpang dan jalan yang benar. Karena anak adalah suatu proyek dan sebagian hidup kita.
Jelaslah sudah bahwa tujuan hidup kita ialah lahirnya manusia-manusia yang bertaqwa kepada Allah SWT. Untuk mencapai tujuan ini, maka bimbingan kepada manusia, sejak kanak-kanak merupakan syarat mutlak bagi suatu keluarga. Beban ini tidak bisa tawar-menawar lagi, karena merupakan sebagian dan hidup dan merupakan sebagian dan bukti ketaqwaannya kepada Allah SWT. Dalam hal ini, ia berarti telah melaksanakan fungsinya, yaitu beribadah kepada Allah SWT, dalam arti yang seluas-luasnya, sesuai dengan firrnan Allah SWT:
Artinya: “Dan Aku tidak menciptakan fin dan manusia melainkan supaya
mereka menyembah-Ku” (Q.S. 51 . 56).
Dengan melihat uraian atas, Anda telah memahami tujuan hidup manusia yang dalam pencapaian tujuan tersebut ternyata pendidikan memegang peranan amat penting, terutama pendidikan yang berkaitan dengan moral, etika, dan budi pekerti yang luhur.
Masalah berikutnya adalah bagaimana langkah-langkah atau cara-cara yang harus ditempuh dalam mewujudkan tujuan tersebut melalui pendidikan.
Untuk mencapai kebutuhan hidup, manusia mau tidak mau ia harus menjalin hubungam dengan orang lain yaitu melakukan kerjasama, tolong-menolong, saling menghormati dan menasihati. Hal tersebut dilakukan dengan cara-cara yang sudah diatur dalam agama seperti adab kesipanan atau akhlakul karimah dengan tetangga, guru, orang tua,: teman dan sebagainya.
Dengan cara demikian, manusia akan mencapai arti dan hakekat idupnya berupa kebahagtaan yang hakiki, lahiriah dan batiniah Dengan itu kemudian manusia dapat dengan tenang melaksanakan tujuan hidupnya yaitu melakukan penmgabdian kepada Allah
3.      Memelihara Kelestarian Alam Sekitarnya
Alam dan isinya diciptakn Allah untuk kepentingan manusia Allah maha adil lagi maha bijaksana. Sebelum menciptakan manusia Ia telah menciptakan langit dan bumi lengkap dengan isinya untuk kepentingan manusia. Selain itu Allah telah pula melengkapi manusia dengan akal. Dengan akal manusia dapat memanfaatkan alam lingkungannya dan untuk kesejahteraan hidupnya. Dengan demikian manusia dapat memperoleh kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat kelah.
Di negara kita yang subur ini Allah telah menganugerahkan berbagai jenis tumbuhan dan binatang yang dapat kita manfaatkan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Untuk tumbuhan dapat kita ambil obat-obatan, rumah,dan makanan sehari-hari dan sebagainya. Allah menyediakan kekayaan yang tidak terdapat di daerah lain, semua di serahkan kepada manusia. Allah sudah memberikan akal kepada manusia. Mampu dan maukah manusia menggunakan akalnya ? jawabnya ada pada manusia itu sendiri
“ Sesungguhnya Kami telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi dan Kami adakan bagimu di muka bumi itu (sumber) penghidupan”.
Allah telah menurunkan nikmatnya begitu banyak tidak mungkin manusia dapat menghitungnya. Oleh karena itu manusia wajib bersyukur kepada-Nya dengan cara menjaganya agar kelestariannya tetap terjaga. Jika salah satu bagian terganggu maka akan mempengaruhi bagian yang lain.
Manusia dapat memanfaatkan alam sekitarnya untuk kebutuhan hidupnya dengan tanpa merusaknya agar Allah tetap lestari. Jika kita syukuri maka akan limpahkan nikmat Allah kepada kita.
            Alam diciptakan oleah Tuhan Yang Maha Esa untuk kebutuhan manusia bumi ini, dan seiring dengan berjalannya waktu, permasalahan alam semakin kompleks akibat dari perkembangan manusia, baik dari sisi kuantitasnya ataupun perkembangan kebutuhan dan sarana bagi manusianya. Berbagai jenis sarana, barang di produksi oleh manusia dengan berbagai bentuk dan bahan, baik bahan yang sulit untuk dicerna oleh alam ataupun bahan yang mudah dicerna oleh alam. Dampak negatifnya mulai dirasakan oleh umat manusia, misalnya akibat polusi udara yang bisa menyebabkan berbagai penyakit yang berhubungan dengan saluran pernafasan, sulitnya mendapatkan sumber air bersih, polusi tanah akibat limbah dan sampah, dsb.
            Sebenarnya alam akan memberikan berbagai kebaikannya kepada umat manusia bila kita umat manusia juga ikut menjaganya, memeliharanya dan melestarikannya. Sebagai contoh bentuk molekul air yang diteliti oleh orang Jepang Masaru Emoto yang menjelaskan bahwasannya bentuk dasar air akan berbentuk heksagonal (segi enam ) yang indah, berkilau dan menakjubkan bila memberikan kata-kata yang baik dan berterimaksih pada air tersebut. Dan begitu pula sebaliknya, akan tidak berbentuk bila kita memberikan kata-kata yang tidak baik (dari buku karya Masaru Emoto yang berjudul The True Power of Water). Beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk menjaga alam ini sebagai wujud rasa syukur kita Kepada ALLAH SWT. Adalah :
Ø  Membiasakan diri sendiri untuk tidak hidup dengan berlebih-lebihan.
Ø  Membudayakan hidup cinta alam pada diri sendiri, keluarga dan lingkungan kita.
Ø  Biasakanlah menyediakan dua tempat sampah di rumah kita, satu untuk sampah organic yang nantinya bisa kita pendam di lubang tanah pekarangan rumah, dan tempat sampah non organic.
Ø  Saat kita di perjalanan usahakan untuk tidak membuang sampah di jalan, dan bila kita menemukan batu-batuan terserak di tengah jalan sebaiknyalah kita meminggirkannya.
Ø  Bila kita berada di tempat wisata, baik itu di pantai, gunung, atau tempat wisata lainnya, usahakan membawa kantong plastic untuk tempat sampah dan bila kita menemukan sampah di jalan wisata tersebut, pungutlah sampah-sampah itu, kebiasaan ini sering kita temukan pada wisatawan manca negara yang berkunjung ke Negara kita.
Ø  Bila kita di alam luas dan menemukan beberapa area lahan yang gersang atau sedikit terdapat tanaman, budayakan untuk menanaminya dengan potongan ranting-ranting kecil untuk kita tancapkan ke tanah yang jarang tumbuhannya tersebut.
Ø  Tetaplah untuk selalu aktif untuk menjaga kelestarian lingkungan alam kita, bila kita di perairan pantai, cobalah untuk tidak ikut-ikutan merusak terumbu karang yang ada, membersihkan sampah di perairan pantai dan memberikan pengertian pentingnya pelestarian alam pada keluarga kita dan sahabat-sahabat kita.
Marilah kita bersama-sama berperan aktif sejak dini untuk melestrikan dan menjaga lingkungan alam Indonesia ini, agar Indonesia tetap hijau, sejuk, sehat dan indah. Semua kebaikan pada alam tersebut manfaatnya akan kembali pada kita.



BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
            Masih terlalu banyak hal-hal yang belum terpenuhi dari kebutuhan manusia di muka bumi ini sebagai mana sifat manusia yang tidak pernah merasa puas dengan hasil kerja kerasnya, hal ini adalah salah satu Qodrat manusia yang diciptakan untuk tidak saling melepaskan antara satu dengan yang lainnya, keterkaitan ini adalah merupakan simbol bahwa manusia itu diciptakan agar saling mengenal, menyanyangi, mengayomi, memberikan bantuan kepada yang membutuhkan. Sebagai makhluk yang paling sempurna yang dilengkapi akal dan fikiran maka sangat wajar jika manusia juga memikirkan sesama dan alam sekitarnya. Untuk kelangsungan hidup yang lebih mapan tanpa harus saling menjatuhkan dan menindas kaum yang lemah.











DAFTAR PUSTAKA
Ahmad jauhari, http// kompssiana.com, berbuat baik. Di akses pada tanggal 25 oktober 2011

http//google.com berbuat baik pada lingkungan dan alam sekitar . di akses pada tanggal 25 oktober 2011

















KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT karena atas limpahan rahmat dan hidayah-Nyalah sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul “Barbuat Baik Terhadap Lingkungan” Dalam penyusunan makalah ini  tidak terlepas dari  berbagai kendala.Akan tetapi semua itu dapat kami atasi sehingga tugas makalah ini dapat kami selesaikan tepat pada waktunya. Itu semua tidak terlepas dari karunia  Allah  SWT.
Kami menyadari sepenuhnya bahwa tugas makalah ini masih jauh dari sempurna. Masih banyak terdapat kekurangan yang semata-mata disebabkan oleh keterbatasan kemampuan dan pengetahuan kami. Oleh karna itu, dengan segala kerendahan hati kami mengharapkan kritik dan saran yang   bersifat membangun demi kesempurnaan makalah ini.
Akhir kata semoga Allah SWT melimpahkan taufiq dan hidayah-Nya kepada kita semua. Dan semoga tugas makalah yang saya persembahkan ini dapat bermanfaat bagi kita semua.AMIN…………………………










Penyusun ,          Oktober 2011

TUGAS INDIVUDU

BUDI PEKERTI DAN ETIKA
(Berbuat Baik Terhadap Lingkungan)

UNHALU 

OLEH :
IRNAWATI
A1 A2 11 047
JURUSAN PENDIDIKAN  SEJARAH
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS HALUOLEO
KENDARI
2011